23 Oktober 2010

http://imbasadi1993.blogspot.com

Term of Reference

Temu Jujaro Mungare Nusantara

Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan

24-26 November 2010

Universitas Pattimura – Ambon

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI) adalah sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional yang bertujuan membina dan meningkatkan intelektualitas serta kreativitas mahasiswa dalam rangka menelaah serta meneliti budaya lokal sebagai sarana kontrol kehidupan berbangsa dan bernegara. Hasil penelaahan dan penelitian ini kemudian dipresentasikan dalam acara pertemuan tahunan yang berupa rangkaian kegiatan utama seminar nasional, temu ilmiah, dan musyawarah nasional. Pada tahun 2010 ini, pertemuan IMBASADI akan diselenggarakan di Universitas Pattimura - Ambon. Selaras dengan tujuan Universitas Pattimura yaitu menjadi universitas riset kelas dunia yang beridentitas kerakyatan dan berakar pada sosio-budaya Indonesia, maka pertemuan IMBASADI tahun 2010 ini mengangkat tema Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan yang tervisualisasikan dalam kegiatan “Temu Jujaro Mungare Nusantara”. Kata jujaro dan mungare berasal dari Bahasa Melayu Ambon yang artinya pemudi dan pemuda. Jadi kegiatan ini merupakan ajang berkumpulnya pemuda dan pemudi nusantara yang berlatar belakang pendidikan bahasa dan sastra daerah untuk membicarakan keberadaan dan perkembangan bahasa dan sastra daerah.

Adapun tujuan kegiatan “Temu Jujaro Mungare” tersebut adalah: 1) Membentuk kearifan lokal nusantara yang terkandung dalam budaya daerah sebagai salah satu langkah untuk mencari solusi permasalahan degradasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegera; 2) Pengenalan kebudayaan nusantara, terutama nilai-nilai tradisi lokal yang perlu dikembangkan kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda; dan 3) Mempererat tali persaudaraan antara Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia dalam rangka pengembangan, pelestarian, dan penyelamatan kekakayaan intelektual Nusantara.

KETENTUAN-KETENTUAN DELEGASI

1. BIAYA, WAKTU, DAN TEMPAT PENDAFTARAN

Biaya Pendaftaran :

a. Peserta aktif : Rp. 500.000,00

b. Peserta pasif : Rp. 600.000,00

Pembayaran dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan kegiatan.

Waktu Pendaftaran: 1 Agustus – 25 Oktober 2010 (konfirmasi jumlah anggota delegasi)

Cara pembayaran:

a. Langsung :

Sekretariat Panitia Temu Jujaro Mungare Nusantara, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon

b. Transfer :

BRI Cabang Ambon, nomor rekening 0001-01-021879-50-5, a.n. June Werinsa Salakory

Bank Mandiri Cabang Ambon, nomor rekening 152-00-0779620-0, a.n. Krissanty Hiariey

2. KEWAJIBAN DELEGASI

a. Menyusun data base tentang naskah atau folklor maupun keduanya dari daerah masing-masing untuk diterbitkan. Data base dikirim bersama makalah temu ilmiah.

b. Membawa jas almameter untuk dipakai selama kegitan berlangsung.

c. Membawa panji universitas masing-masing yang akan dipasang selama acara berlangsung.

d. Mempersiapkan satu set busana tradisional yang akan digunakan oleh dua anggota delegasi sebagai ikon dalam acara Ramah Tamah.

e. Menyusun rumusan solusi permasalahan bangsa terkait dengan tema Musyawarah Nasional ke-17.

f. Setiap delegasi diwajibkan membawa Sumbangan Wajib Organisasi (SWO) untuk Sekretariat Imbasadi sebesar Rp. 50.000,-

3. TEMU ILMIAH

Temu ilmiah kali ini mengusung tema “Pengembangan, Pelestarian, dan Aktualisasi Nilai-nilai Tradisi Lokal sebagai Kekayaan Nusantara”

Ketentuan penulisan:

- Naskah atau makalah yang ditulis harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan di atas.

- Naskah atau makalah adalah karya murni dari peserta sendiri dan belum pernah dipublikasikan.

- Naskah atau makalah ditulis dalam Bahasa Indonesia, diketik dengan aturan 1,5 spasi, font 12 Times New Roman, minimal 10 lembar.

- Naskah atau makalah dikirim dalam bentuk soft copy melalui email: temujujaromongarenusantara@yahoo.com

- Batas pengiriman naskah atau makalah paling lambat tanggal 15 Oktober 2010

- Naskah atau makalah akan diseleksi oleh panitia.

4. SEMINAR NASIONAL

- Seminar nasional menghadirkan 3 pembicara yang akan membawakan makalah dengan tema ”Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan”.

- Peserta seminar terdiri dari peserta IMBASADI, dosen, guru, mahasiswa, dan pemerhati masalah bahasa dan sastra daerah.

- Peserta lain yang bukan peserta IMBASADI wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.250.000.-. Sedangkan mahasiswa dikenakan biaya sebesar Rp.75.000.-

- Peserta seminar nasional yang bukan peserta IMBASADI wajib mendaftar satu minggu sebelum seminar dilaksanakan.

- Peserta seminar nasional mendapatkan sertifikat, seminar kit, dan makan siang.

5. MUSYAWARAH NASIONAL

Musyawarah Nasional ke-17 ini mengangkat tema “Melanjutkan Estafet Perjuangan Melalui Tradisi Lokal”.

Musyawarah Nasional ini akan membahas tentang:

- Sosialisasi AD/ART dan GBHO Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

- Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IMBASADI Periode 2009/2010

- Pemilihan Pengurus IMBASADI Periode 2010/ 2011

- Penentuan program kerja IMBASADI Periode 2010/ 2011

- Rekomendasi permasalahan bangsa dengan menerapkan kearifan-kearifan lokal yang terkandung dalam naskah lama dan folklor nusantara.

4. MALAM KEBUDAYAAN NUSANTARA DAN PAMERAN KEBUDAYAAN

a. Malam Kebudayaan Nusantara

- Masing-masing delegasi wajib menampilkan satu pertunjukkan budaya dari daerah masing-masing.

Bentuk pertunjukkan harap dikonfirmasikan paling lambat satu minggu sebelum hari pelaksanaan kegiatan.

- Batas waktu penampilan 15 menit.

- Properti harap dipersiapkan sendiri terkait dengan ruang penyimpanan properti delegasi.

b. Pameran Kebudayaan

- Tiap delegasi diharapkan memamerkan barang-barang khas daerah masing-masing dan diperbolehkan melakukan transaksi jual beli.

- Tiap delegasi wajib mengirimkan data barang yang akan dipamerkan terkait dengan buku panduan pameran dan pengaturan stan.

Apabila membutuhkan perlengkapan tambahan, harap segera diinformasikan pada panitia.

17 September 2010

Latihan Pengenalan Alam Dasar 2010

DUKUNG DAN SUKSESKAN
LATIHAN PENGENALAN ALAM DASAR 2010
IKATAN MAHASISWA SASTRA DAERAH FS USU

Bertemakan :“Satu Rasa Satu Jiwa Meningkatkan Budaya Yang Maha Karya"

Bertempat di Haranggaol Street 11 Pekan 3 Raja - Prapat Danau Toba, North Sumatra,
tanggal 24-26 Sept 2010 yg diikutin oleh : Staf Ahli Akademik, Alumni, Mahasiswa Departemen, Masyarakat Umum.

bagi yg ingin bergabung bisa menghubungi sdr Girson 087869499519, Fahkri 087891852161,
fasilitas: Akomodasi, Transportasi, Logistik, sertifikat, Baju
Planning Iven : Dialog Akademik-Organisasi, Pengenalan Alam, Study Wisata, Wisata Kuliner, etc

fb/email : sastra.daerahusu@yahoo.co.id




09 Juni 2010

HASIL UMB TA 2010/2011

FORM MAHASISWA UMB TA. 2010/2011 DEPARTEMEN SASTRA DAERAH FS USU
Program Studi Sastra Daerah Untuk Sastra Melayu


1 6101100009 LISA NOVIDAR
2 6101100088 MUTIA LAZITA
3 6101100220 AIDA TIARANI
4 5101300231 ANWAR AHMAD JHRP
5 5101304199 MELIANA SIDAURUK
6 5101305049 HANAFI ANGKAT
7 5101309021 HENDRO SPUTRA ARUAN
8 5101309600 HARIATI SIMANULLANG
9 6101300015 M TRI HUSADI
10 6101303110 DEMMY SYAHPUTRA
11 6101305224 ELPI RIAULI SARAGIH
12 6101305670 TEUKU RAMA ARISMA L
13 6101308599 PANJI PRATAMA
14 5101700010 AYU RATNA LATIFAH
15 5102000206 PANNI NURANI

Program Studi Sastra Daerah Untuk Sastra Batak

1 5101300614 MORA NATALIA SIAHAAN
2 5101303875 JAMALUM BERUTU
3 5101305418 JAFIER HASOLOAN S
4 5101305566 MASDANIATI BANCIN
5 5101307208 ANDUS FRISKA TAMBA
6 5101308774 RIANTO SIPAYUNG
7 5101308783 DODY MORRIS
8 5101309264 DANIEL U PASARIBU
9 5101309528 MARUSAHA PARDOSI
10 6101300617 FERNANDO F SINAGA
11 6101301218 ANDREW FILARDO
12 6101304165 JENRY KANSER SIAHAAN
13 6101307196 LUMBAN SIAGIAN
14 6101309470 ESTI PUTRI
15 6101309611 HERISA SIMANJUNTAK
16 5102114586 STEVEN ANUGRAH
17 5107100180 IQBAL HUSEIN

18 November 2009

http://www.manassa.org.

Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13: Call for Papers


Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13

NASKAH, AKSES DAN IDENTITAS

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Bekerja sama dengan
Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret
Solo, 27-29 Juli 2010

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), bekerja sama dengan Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, akan menyelenggarakan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27-29 Juli 2010.
Kami mengundang para peneliti, pengkaji, dan pemerhati naskah Nusantara untuk menjadi pemakalah dalam kegiatan tersebut dengan mengirimkan abstraknya terlebih dahulu. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh tim akademik Manassa, dan dipilih sejumlah makalah yang sesuai dengan tema Simposium, yakni AKSES dan IDENTITAS.
Abstrak makalah dapat dikirim ke email Manassa dengan alamat: manassapusat@yahoo.com, dan harus sudah diterima paling lambat tanggal 26 Maret 2010. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh tim akademik Manassa, dan hasilnya diumumkan 1 (satu) bulan berikutnya, atau tanggal 26 April 2010.
Bagi mereka yang diterima sebagai calon pemakalah diharuskan mengirimkan makalah lengkapnya paling lambat sebulan sebelum Simposium, yakni tanggal 26 Juni 2010, dan akan mendapatkan fasilitas akomodasi serta konsumsi selama kegiatan berlangsung.
PENJELASAN TEMA
NASKAH, merupakan kata kunci yang merujuk pada artefak budaya berupa tulisan tangan (manuscripts) yang telah diwariskan secara turun temurun.
AKSES, merupakan kata kunci yang akan mencakup topik-topik upaya penelusuran, pencatatan, bacaan, kajian, dan upaya pelestarian naskah-naskah Nusantara. Dengan sendirinya, hal-hal yang meniscayakan terciptanya akses tersebut perlu diupayakan dan terus dilakukan, seperti digitalisasi dan restorasi. Akses terhadap koleksi naskah perorangan yang biasanya lebih rumit akan mendapat perhatian lebih, selain naskah dalam koleksi lembaga.
IDENTITAS, merupakan kata kunci yang akan mencakup topik-topik tentang berbagai upaya membangkitkan kesadaran kolektif bangsa Indonesia bahwa naskah-naskah kuno adalah benda cagar budaya yang mencirikan identitas bersama, dan karenanya perlu dijaga, dilestarikan, serta diwariskan dari generasi ke generasi, untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan wacana dan keilmuan masyarakat Indonesia.
Melalui tema di atas, diharapkan bahwa kandungan isi naskah-naskah kuno Nusantara tersebut dapat menyumbangkan manfaat nyata bagi masa depan yang lebih baik, selalu turut memberikan respon terhadap kebutuhan keilmuan masyarakat kekinian, serta tidak terisolir sebagai "benda tak berharga".
MAKSUD DAN TUJUAN
Simposium ke-13 Solo ini bertujuan, antara lain, untuk:
1. Mendiskusikan dan merumuskan berbagai teknik pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Nusantara, termasuk restorasi dan konservasi, baik melalui teknologi modern maupun tradisional, yang dihubungkan dengan sifat serta kelembaban alam di Asia Tenggara;
2. Mencari solusi agar upaya restorasi dan konservasi naskah-naskah Nusantara dapat dilakukan dengan mudah, tidak selalu tergantung pada bahan-bahan dari luar negeri;
3. Merumuskan strategi dan teknik digitalisasi naskah Nusantara, baik yang dilakukan di lembaga penyimpanan naskah maupun di masyarakat;
4. Memetakan serta menghimpun informasi mutakhir dan menyeluruh tentang berbagai aktifitas, di Indonesia khususnya, dan di Mancanegara umumnya, yang berkaitan dengan naskah-naskah Nusantara;
5. Mendorong berbagai kajian atas naskah-naskah Nusantara yang dapat memberikan kontribusi terhadap wacana dan pengetahuan keilmuan masyarakat dalam konteks kekinian.
6. Membangun kesadaran di kalangan masyarakat bahwa naskah-naskah Nusantara merupakan benda cagar budaya dan identitas bangsa yang perlu dilestarikan, serta kandungan pengetahuan dan kearifan di dalamnya perlu disosialisasikan kepada, serta dapat diakses oleh, dunia keilmuan secara terbuka;
7. Menyumbangkan berbagai pemikiran serta kearifan lokal yang terkandung dalam naskah-naskah Nusantara bagi kepentingan masa depan yang lebih baik.
INFORMASI LAIN
Semua informasi lain berkaitan dengan Simposium ke-13 ini, termasuk hal yang berkaitan dengan syarat keikutsertaannya, akan diinformasikan kemudian melalui situs Manassa ini dengan alaman http://www.manassa.org.

Sekretariat: Gedung VIII Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia
Telp. +62 21 747707649, Fax. +62 21 7408677

23 Mei 2009

Nusantara's Days IMBASADI- UGM Oktober 2009

Nusantara’s Days


Latar Belakang Kegiatan
Keengganan generasi muda untuk menelaah dan menerapkan ajaran-ajaran yang terdapat dalam lingkup budaya mereka dan derasnya arus globalisasi menjadi faktor terjadinya degradasi moral di antara mereka. Arus informasi yang semakin tak terbendung membuat banyak generasi muda hanya memandang sebelah mata akan kearifan-kearifan lokal yang seharusnya lebih pantas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena sesuai dengan identitas mereka sebagai bangsa timur.
Sejalan dengan tujuan Universitas Gadjah Mada yaitu menjadi universitas riset kelas dunia yang beridentitas kerakyatan dan berakar pada sosio-budaya Indonesia, maka Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI) mengadakan pertemuan tingkat nasional dengan agenda besar yaitu penggalian budaya-budaya lokal terutama bahasa dan sastra yang tervisualisasikan dalam kegiatan Nusantara’s Days.

Tujuan Pelaksanaan Kegiatan

1. Membedah kearifan-kearifan lokal Nusantara yang terkandung dalam naskah lama dan folklor sebagai salah satu langkah untuk mencari solusi permasalahan degradasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Pengenalan kebudayaan Nusantara, terutama naskah lama dan folklor, kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda.
3. Mempererat tali persaudaraan antara mahasiswa bahasa dan sastra daerah se-Indonesia dalam rangka pengembangan, pelestarian, dan penyelamatan kekayaan-kekayaan intelektual Nusantara.

Tema Kegiatan
"Not Lose In Trace “Berpijak Tradisi Menapak Globalisasi"

Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara (KAMASUTRA) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Yang juga merupakan salah satu anggota tetap Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI).

Bentuk Kegiatan
a. Upacara Pembukaan dan Ramah Tamah
Pelaksanaan : Minggu, 25 Oktober 2009
Waktu : 19.00 – 21.30 WIB
Tempat : Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada

b. Seminar Internasional (dalam konfirmasi)
Tema : Nusantara’s Manuscripts and Folklores “The Beauty Inside”
Pelaksanaan : Senin, 26 Oktober 2009
Waktu : 08.00 – 17.00 WIB
Tempat : University Club Universitas Gadjah Mada

c. Temu Ilmiah
Tema : Pengembangan, Penelaahan, Pelestarian, dan Penyelamatan Kekayaan Intelektual Nusantara
Pelaksanaan : Selasa, 27 Oktober 2009
Waktu : 08.00 – 15.00 WIB
Tempat : Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

d. Musyawarah Nasional ke-16
Tema : Solusi Permasalahan Bangsa dengan Menerapkan Kearifan-Kearifan Lokal yang Terkandung dalam Naskah Lama dan Folklor Nusantara.
Pelaksanaan : Selasa, 27 Oktober 2009
Waktu : 19.00 WIB – selesai
Tempat : Meeting Room LPP Convention Hotel Unit Ambarukmo
(dalam konfirmasi)

e. Malam Kebudayaan Nusantara dan Pameran Kebudayaan (Lomba Mural “Kearifan Lokal”)
Tema : Pesta Besar Kerajaan-Kerajaan Nusantara
Pelaksanaan : Rabu, 28 Oktober 2009
Waktu : 13.00 – 24.00 WIB
Tempat : Boulevard Universitas Gadjah Mada

f. Wisata Budaya
Tema : Napak Tilas Mataram
Pelaksanaan : Kamis dan Jum’at, 29 Oktober – 30 Oktober 2009
Waktu : 08.00 WIB - selesai
Tempat : Tempat-tempat wisata di Yogyakarta (Candi Prambanan,
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tamansari, Museum Kereta,
Kotagede, Benteng Vredeburg, Museum Ullen Sentalu, Tugu
Yogyakarta, dan Malioboro).
g. Penutupan
Pelaksanaan : Sabtu, 31 Oktober 2009
Waktu : 07.30 WIB - selesai
Tempat : Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

Peserta

1. Pengurus dan anggota himpunan-himpunan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia.
2. Masyarakat umum (Seminar Internasional, Pameran, Malam Kebudayaan Nusantara, dan Lomba Mural).

Waktu, Tempat, dan Biaya Pendaftaran
Waktu pendaftaran : 1 Juli 2009 – 31 Agustus 2009
Tempat pendaftaran : Sekretariat Nusantara’s Days Jurusan Sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya UGM

Biaya pendaftaran :
a. Peserta Nusantara’s Days
- Peserta aktif sebesar Rp. 450.000,00
- Peserta pasif sebesar Rp. 500.000,00
b. Umum
- Seminar Internasional Rp. 150.000,00
- Lomba Mural Rp. 50.000,00
- Uang pendaftaran diterima panitia paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan Nusantara’s Days, dikirim melalui transfer ke rekening Bank Rakyat Indonesia cabang Cik Di Tiro Yogyakarta atas nama Siti Nurhilmi Nihayati dengan no. Rekening 0029-01-001421-53-2.

Sekretariat Pendaftaran dan Informasi
KAMASUTRA (Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Jalan Nusantara No.1 Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Fax : (0274) 550451

Contact person
Sekar : 081328022996 - 08562862649
Email : kamasutra_baroe@yahoo.com
Web : www.sastranusantara.fib.ugm.ac.id

21 Mei 2009

Undangan Pelantikan

Undangan Pelantikan

Badan Pengurus Harian IMSAD FS USU

Periode 2009-2010

Jumat 29 Mei 2009, bertempat di Gd. Serba Guna FS USU jalan Universitas 19 Kampus USU Medan 20155

Waktu : 14.00 wib - selesai,

untuk info lebih lanjut, hubungi arianus 081376766215, Nur 08526296036

"Pelestarian Budaya Etnik , adalah TANGGUNG JAWAB kita bersama"

05 Mei 2009

SUSUNAN KEPENGURUSAN IMSAD 2008-2009

SUSUNAN KEPENGURUSAN

IKATAN MAHASISWA SASTRA DAERAH – FS USU
IMSAD – FS USU
Periode PJS 2008-2009
NO : 001/BPH-IMSAD/FS-USU/MEI-2009

Ketua :
Fauzi Muhizar '081376011783

Sekretaris :
Irwan Sianturi'085276476626

Divisi Humas :
Bob Hendro Sihombing, Parsaoran Naibaho, Nadila

Divisi Dana :
Intan R, Rina Fauza, Rama

Divisi Kesekretariatan :
Pinky, Ayu Lestari, Fadhlan,

Divisi Infokom :
Jufriadi, Imannuel, Yanrico

Divisi Kekaryaan:
Rendy, Eka Wanda Sitepu, Dedi Sitinjak

Divisi Minat Bakat,
Arianus Gea, Girson, Mustaqim, Widia Ningsih

Divisi Sosial :
Mustapid, Fitri, Nurmaini, Boby, T, Ben P.

Divisi Keagamaan:
Anke, Bilferi, Azis


ttd,

Divisi Infokom


kalo masih ada saran dan masukan,tolong dikirim ke email : sastra.daerahusu@yahoo.co.id

01 Mei 2009

Makalah Seminar Nasional Budaya Etnik III edisi 20

MODALITAS
DALAM BAHASA SIMALUNGUN
[1]
Dra.Anita Purba.M.Hum[2]

Abstrak
Modalitas ialah sikap pembicara yang dinyatakan secara gramatikal, bukan secara leksikal terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya. Perbedaan pemaparan tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Modalitas dalam bahasa Simalungun banyak dinyatakan dengan kata dan hanya sebagian dinyatakan dengan frasa. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas. Penanda modalitas dalam Bahasa Simalungun dikelompokkan menjadi empat yakni : penanda modalitas intensional, penanda modalitas epistemik, penanda modalitas deontik, dan penanda modalitas dinamik. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan.
Kata kunci : grammatikal, modalitas.


I.Pendahuluan.
Bahasa Simalungun adalah bahasa yang dipakai oleh suku Simalungun yang merupakan salah satu subsuku dari suku Batak. Namun ada juga suku lain yang diluar suku Simalungun menggunakan bahasa Simalungun khususnya yang berdomisili di daerah Simalungun ataupun yang melakukan kawin campur dengan suku Simalungun. Secara geografi suku Simalungun terdapat di Provinsi Sumatera Utara, dan pada umumnya mereka berdiam di daerah Kabupaten Simalungun. Namun ada juga yang tinggal di daerah lain seperti Kabupaten Karo, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Asahan.
Penulisan dan penelitian mengenai bahasa Simalungun belum begitu banyak dilakukan dibandingkan dengan pembahasan bahasa subsuku Batak lainnya. Khusus pembahasan bidang Semantik bahasa Simalungun masih jarang ditulis dan kalaupun ada masih sangat sedikit. Pada pembahasan ini akan dicoba dijelaskan tentang Modalitas yang ada ditemukan dalam bahasa Simalungun.
Yang dimaksud dengan modalitas ialah sikap pembicara terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya (Alwi, 1992:5). Sikap itu tidak dinyatakan secara gramatikal, tetapi dinyatakan secara leksikal.

Modalitas oleh Saeed (1997:125) dirumuskan sebagai
Modality is a cover term for devices which allow speakers to express varying degrees of commitment to, or belief in, a proposisi. John I.Saeed- Semantics. page 125 , thn 1997.

‘keseluruhan istilah yang berfungsi sebagai alat bagi pembicara untuk mengungkapkan berbagai jenis tingkatan komitmen atau keyakinannya dalam satu proposisi’.

Perbedaan pandangan dan tafsiran terhadap ‘sikap pembicara’ itu terlihat pula pada pemberian istilah, dimana Alwi (1992) membagi hanya dalam satu istilah yaitu modalitas yang terbagi dalam empat kategori yaitu modalitas intensioanal, modalitas epistemik, modalitas deontik dan modalitas dinamis, sedangkan Saeed (1997) membaginya dalam dua pembagian yaitu modalitas dan evidensial.

II. Masalah dan Tujuan
Masalah.
Perbedaan pemaparan oleh para ahli-ahli bahasa tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Hal ini membuat sulit untuk menentukan yang mana yang sesuai digunakan dalam operasional perumusan modalitas dalam bahasa Simalungun.
Setelah melihat data yang tersedia maka dapat diidentifikasi bahwa modalitas bahasa Simalungun berbeda dibandingkan modalitas bahasa daerah lain misalnya modalitas bahasa Jawa yang sudah mempunyai referensinya. Jadi alangkah lebih baik mengikuti langkah Hasan Alwi tentang modalitas bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa nasional atau induk dari bahasa –bahasa daerah yang ada di Indonesia termasuk bahasa Simalungun.
Hal ini juga terkesan dalam perbendaharaan bahasa daerah yang sebagian bersumber dari bahasa Indonesia .
Tujuan
Sesuai dengan adanya permasalahan tersebut di atas, maka tulisan ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasikan kata-kata dan frasa yang digunakan sebagai modalitas dalam bahasa Simalungun.
2. Mendiskripsikan modalitas dalam bahasa Simalungun yang ada dalam bentuk kata-kata dan frasa .
3. Menjelaskan makna modalitas yang ada dalam bahasa Simalungun.

III. Tinjauan Pustaka.
Ada banyak buku yang menjelaskan pengertian atau tafsiran tentang modalitas dalam berbagai bahasa. Pada pembahasan ini penulis mengambil pengkategorian modalitas menurut Hasan Alwi yang membagi modalitas mencakup empat subkategori yaitu modalitas Intensinal, modalitas Epistemik, modalitas Deontik dan modalitas Dinamik (hal 22).
Kategori modalitas Intensional terdiri dari sub kategori modalitas Keinginan, Harapan, Ajak, Pembiaran, Permintaan, Persilaan, dan Persetujuan.
Kategori modalitas Epistemik terdiri dari sub kategori modalitas Kemungkinan, Keteramalan, Keharusan, Kepastian .
Kategori modalitas Deontik terdiri dari sub kategori modalitas Izin, dan Perintah.
Kategori modalitas Dinamik hanya terdiri dari sub kategori modalitas Kemampuan

IV. Metodologi
Pembahasan ini menggunakan data bahasa Simalungun yang diambil dari beberapa sumber secara lisan dan tulisan. Sumber tertulis berasal dari pemberian angket kepada beberapa informan dengan ciri sebagai berikut : adalah mahasiswa suku Simalungun, tinggal di Kabupaten Simalungun, dan dalam kesehariannya menggunakan bahasa Simalungun.
Adapun bentuk angket tersebut yaitu daftar yang terdiri dari kalimat yang memakai modalitas bahasa Inggris dan modalitas bahasa Indonesia. Kemudian para informan dianjurkan mencari padanan modalitas tersebut dalam bahasa Simalungun.
Untuk melihat ada tidaknya modalitas penulis juga membaca data tulisan yaitu buku ’Folklore Simalungun’ kemudian menandai atau mencurigainya, dan menuliskannya dalam daftar dan kemudian menentukan apakah data tersebut modalitas atau tidak dengan melihat ciri-cirinya. Sementara itu, penulis juga sebagai penutur asli bahasa Simalungun yang bertindak menjadi narasumber juga.
Namun, data yang didapat secara lisan dan tulisan dianggap sebagai data sementara yang masih perlu dicari kebenarannya dengan bertanya kepada beberapa informan atau melalui pengamatan langsung.
Selanjutnya setelah diyakini bahwa data tersebut adalah modalitas maka diklasifikasikanlah menurut jenis kategori modalitasnya dan setiap kategori diklasifikasikan lebih lanjut menurut subkategorinya. Pengungkapan yang dipakai hanya merupakan pengungkapan dalam kalimat.

V. Hasil dan Pembahasan.
1.Modalitas Intensional
Modalitas Intensional adalah bahasa yang digunakan pembicara untuk menyatakan sikapnya terhadap peristiwa nonaktual yang diungkapkannya. Modalitas seperti ini juga ada dalam bahasa Simalumgun, misalnya jika seseorang ingin menyatakan keinginnannya maka pembicara memakai modalitas. Seperti dapat dilihat dalm contoh berikut.
Au marosuh mangan gule. ‘Aku ingin makan gulai’.
Dengan mendengar keinginan itu, pendengar atau teman bicara terdorong untuk mengaktualisasikan apa yang diungkapkan pembicara, misalnya dengan memberikan apa yang diinginkan pembicara. Penanda modalitas ’keinginanan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata marosuh dan masihol yang bermakna ’ingin’.

1.1 Keinginan
Penanda modalitas ’keinginan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata verba marosuh dan masihol ’ingin’.
Au marosuh ham mandodingkon ai
Au masihol ham mandodingkon ai
Aku ingin kamu yang menyanyikannya.
Posisi verba marosuh dan masihol juga lazim ditempatkan di awal kalimat sebelum subjek.
Marosuh au ham mandodingkon ai
Masihol au ham mandodinkon ai.
Ingin aku kamu yang menyanyikannya
Kata marosuh dan masihol yang berfungsi menunjukkan keinginan sering diikuti kata uhur ’hati’ atau ’perasaan hati’ yang membentuk frasa. Posisi kata-kata tersebut juga bisa saling bergantian.
Marosuh uhurhu ham mandodingkon ai
Masihol uhurhu ham mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Uhurhu marosuh ham mandodingkon ai.
Uhurhu masihol ham mandodingkon ai
Hatiku ingin kamu yang menyanyikannya.
Kata /frasa uhur atau nini uhurhu bisa juga berdiri sendiri tanpa ada kata marosuh atau masihol yang berfungsi menyatakan keinginan.
Uhurmu ham ma mandodingkan ai
Hatiku mau kamu yang menyanyikannya
Piga dokah nini uhurmi au mangkorjahon ai
Berapa lama keinginanmu aku mengerjakan itu.
Kata marosuh dan masihol ’menginginkan’ dapat juga disingkat dengan kata rosuh dan sihol ’ingin’adalah kata yang menjelaskan suasana hati sepert contoh ini
Rosuh do uhur hu ham mandodingkon ai
Sihol do uhur hu ham mandodingkon ai
Uhurhu namin ham ma mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Pemberian suffik -an untuk kata rosuh dan sihol dapat digunakan untuk mengungkapkan keinginan yaitu rosuhan dan siholan yang bermakan ’lebih ingin’. Hal ini dapat dilihat dalm contoh berikut.
Rosuhan do uhur hu ham mandodingkon ai
Siholan do uhur hu ham mandodingkon ai.
Aku lebih ingin kamu yang menyanyikannya.
Bagian tuturan yang dikenai negasi adalah kata/frasa yang menyatakan modalitas. Penegasian kata-kata itu ialah dengan kata seng, lang ’tidak’. Lang dan seng digunakan dengan kata marosuh sedangkan kata masihol disingkat menjadi kata sihol. Misalnya dalam kalimat berikut:
Au lang/ seng marosuh modom
. Au lang / seng sihol modom
Aku tidak ingin tidur
Lang / seng marosuh au modom
Lang / seng sihol au modom
Tidak ingin aku tidur
Kalimat yang mempunyai kata/frasa uhur atau uhurhu untuk menunujukkan keinginan , penegasiannya tetap dengan kata lang atau seng dan posisinya sebelum kata marosuh atau masihol.
Lang /seng marosuh uhurhu modom
Lang / seng sihol uhurhu modom
Tidak ingin hatiku tidur.
Uhurhu lang / seng marosuh modom
Uhurhu lang / seng sihol modom
Hatiku tidak ingin tidur


1.2.Harapan
Modalitas ’harapan’ dinyatakan dengan verba dan adverbia . Verba yang menyatakan modalitas ’harapan’ yaitu kata/frasa arap, mangarap atau mangarapkon .
Arap do uhurhu ham sehat
Harap hatiku anda sehat
Au mangarap ham sehat
Aku berharap anda sehat
Au mangarapkon ham sehat
Aku lebih berharap anda sehat

Adverbia yang menyatakan harapan adalah kata andohar yang bermakna ’semoga’, dan khusus kata andohar tidak mendapat negasi
Andohar ma ham sehat
Semoga kamu sehat
Penanda modalitas harapan yang dapat dinegasikan adalah yang dinyatakan dengan verba. Yang dinyatakan dengan adverbia tidak dinegasikan.
Au lang / seng mangarap ham sehat
Au lang / seng mangarapkon ham sehat
Aku tidak berharap / mengharap kamu sehat.

1.3 Ajakan
’Ajakan ’adalah ungkapan pelaku terhadap tindakan yangg ditujukan terhadap persona kedua atau teman bicara. Dalam bahasa Simalungun, ajakan biasanya dinyatakan dengan kata eta ’ ayo’atau ’ayolah’. Kata eta hanya dapat diikuti oleh persona kedua tunggal ham ’anda’ dan persona pertama jamak hita ’kita’.
Eta ham marsoban
Ayo anda? mencari kayu
Eta (ma) hita marsoban
Ayo(-lah) kita mencari kayu
Eta (ma) mangan inang
Ayo(-lah) makan bu.
1.4 Pembiaran
‘Pembiaran’ adalah ungkapan sikap pembicara untuk menghentitkan perbuatan yang akan dilakukan oleh teman bicara karena pembicara tidak menghendaki perbuatan itu tetapi tidak diucapkan secara nyata. Kata kata pembiaran yang digunakan dalam bahasa Simalungun adalah verba paturut dan pasombuh.
Paturut ham ma ia mangan
Pasombuh ham ma ia mangan
Biarkanlah ia makan.
Penegasian modalitas pembiaran hanya menambah kata ulang / seng sebelum verba paturut atau pasombuh.
Ulang / seng paturut ham ia mangan lobeinan.
Ulang / seng pasombuh ham ia mangan lobeinan.
Jangan biarkan dia makan lebih dulu.

1.5 Permintaan /Persilaan
’Permintaan’ atau persilaan menggambarkan sikap pembicara yang menghendaki teman bicara atau orang lain melakukan sesuatu. ’Permintaan’ atau ’persilaan’ ada yang seperti ’perintah’ dengan hanya menekan atau mempertegas verba dengan kata ma / nema . Dalam mengungkapkan kata/frasa permintaan atau persilaan membutuh intonasi yang lebih lembut dan lambat dibanding dengan kalimat biasa.
Basa ma, buku in
Bacalah buku itu
Nema, basa buku in
Ayolah baca buku itu
Penambahan kata hon pada kalimat sebelumnya sedikit lebih memaksakan kehendak pembicara untuk orang lain melakukannya segera.
Basahon ma buku in.
Bacakanlah buku itu
‘Pembiaran’ atau ‘persilaan’ akan menjadi halus apabila ditambah dengan kata lobei dan lojo yang bermakna ‘dulu’
Basahon ma lobei buku in.
Basahon ma lojo buku in.
Bacakanlah dulu buku itu.
1.6 Persetujuan
‘Persetujuan’ menggambarkan sikap pembicara yang dengan sukarela menyetujui sesuatu yang akan dilakukan oleh teman bicara.
Kata yang sering digunkan dalam bahasa Simalungun adalah dear, kadang kala kata dear ditambah dengan kata/frasa lain seperti - ma, - ma anggo sonai untuk memperjelas persetujuan pembicara
Dear ma ai, patar hita mulak.
Baiklah itu, besok kita pulang.
Dear ma anggo sonai, patar hita mulak
Baiklah kalau begitu, besok kita pulang

2.Modalitas Epistemik.
Modalitas Epistemik ialah sikap pembicara yang didasari oleh keyakinan atau kekurang yakinannya terhadap kebenaran satu proposisi. Hal seperti ini juga ada terdapat dalam bahasa Simalungun misalnya,
Ra ma roh sidea tongkin nari
Mungkin datang mereka sebentar lagi.
Sikap pembicara yang didasari oleh kekurangyakinan terhadap kebenaran proposisi dapat menimbulkan: kemungkinan, keteramalan, keharusan dan kepastian.

2.1.Kemungkinan
Makna modalitas kemungkinan dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kata ra atau hira yang berarti ’mungkin’atau ’perkiraan’
Ra boi do inang roh patar
Hira boi do inang roh patar
Mungkin bisanya mamak datang besok

Patar boi do ra inang roh
Besok bisanya mungkin mamak datang
Penegasian modalitas epistemik kemungkinan dalam bahasa Simalungun digunakan kata lang dimana kata lang / seng dipakai sebelum kata ra atau hira.
Lang / seng ra boi inang roh patar
Tidak mungkin bisa mamak datang besok
Patar lang / seng ra boi inang roh besok
Besok tidak mungkin bisa mamak datang


2.2.Keteramalan
’Keteramalan’ mencerminkan sikap pembicara yang lebih yakin terhadap ’kebenaran’ proposisi daripada ’kemungkinan’. Atau dengan kata lain ’kemungkinan’ menggambarkan sikap pembicara yang lebih ragu terhadap’kebenaran’. Dalam bahasa Simalungun ’keteramalan’ ditandai dengan kata hira, agat ,arap dan ahap yang bermakna ’ramalan’ atau ’perkiraan .’
Hu hira domma puho bapa.
Hu agat domma puho bapa
Hu arap domma puho bapa
Hu ahap domma puho bapa
Aku kira sudah bangun bapak
Penegasian untuk kata hira, agat, arap, ahap, hanya menambah kata lang / seng yang dipakai sebelum verba.
Lang / seng hu hira domma puho bapa.
Lang / seng hu agat domma puho bapa
Lang / seng hu arap domma puho bapa
Lang / seng hu ahap domma puho bapa
Tidak aku kira sudah bangun bapak

2.3.Keharusan
Modalitas epistemik ’keharusan’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti kata maningon yang berarti ’harus’ patut dan porlu yang berarti mestinya. Kata maningon lebih keras daripada kata patut dan porlu. Hal ini nampak dalam contoh berikut.
Maningon marsahap do hanami.
Kami harus berbicara.
Ai maningon podas do suang use ai.
Itu harus cepat kembali lagi
Patut do ham roh
Porlu do ham roh
Mestinya anda datang
Penegasian untuk kata maningon, patut dan perlu hanya menambahkan kata lang / seng sebelum kata-kata tersebut.
Lang / seng maningon roh ham.
Tidak harus datang anda
Lang/ seng patut ham roh
Lang / seng porlu ham roh
Tidak mestinya anda datang
2.4.Kapastian
‘Kepastian’ menggambarkan sikap pembicra yang merasa pasti atau yakin bahwa proposisi yang diungkapkannya benar. Kepastian adalah modalitas epistemik yang paling tinggi tingkat rasa ‘pasti’ atau ‘yakin’ pembicara, dibanding yang lain seperti ‘kemungkinan’, ‘keteramalan’ dan ‘keharusan’. Dalam bahasa Simalungun kata pasti sering dipakai untuk menyatakan kepastian atau keyakinan, dimana kata pasti juga mungkin berpengaruh dari bahasa Indonesia. Sama seperti kata tontu yang berasal dari kata’tentu’ dalam bahasa Indonesia.
Pasti do ia mulak patar
Tontu do ia mulak patar
Pasti dia kembali besok.
Selain kata pasti dan tontu diatas ada lagi kata/frasa yang menunjukkan kepastian yaitu kata pos yang sering diikuti kata uhur (hati/heart yang berhubungan dengan perasaan) atau porsaya yang mungkin berasal dari kata ‘percaya’.
Pos ma uhurmu mulakk do ia patar
Porsaya ma ham mulak do ia patar
Yakinlah dia kembali besok
Kadangkala kalimat di atas di ikuti lagi ole kata pasti (redundant), yang menyatakan tingkat keyakinan yang paling tinggi.
Pos ma uhur mu pasti do ia mulak patar
Porsaya ma ham pasti do ia mulak patar
Yakinlah pasti dia kembali besok
Penegasian kepastian dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan menambah lang seng pada modalitas pasti, tontu, dan kata ulang untuk kata/frasa pos uhur dan porsaya berarti ‘jangan’.
Lang / seng pasti ia mulak patar
Lang / seng tontu ia mulak patar
Tidak pasti dia kembali besok.
Lang pos uhurhu mulak ia patar
Lang porsaya uhurhu mulak ia patar
Aku tidak yakin dia kembali besok
Ada pengungkap ketidak yakinan dalam bahasa Simalungun yang dinyatakan dengan kata gobir dan sangsi, dimana kata kata tersebut dapat berdiri sendiri, tidak memakai negasi lang tetapi mengandung makna negative.
Gobir do uhurmu bangku
Sangsi do ham bangku
Tidak yakinnya anda sama saya.

3.Modalitas Deontik
Kaidah sosial berupa kewenangan pribadi atau kewengan resmi dapat mendasari sikap pembicara terhadap peristiwa disebut dengan modalitas deontik. Kewenangan pribadi ditimbulkan oleh adanya perbedaan usia, jabatan, atau status sosial, sedangkan kewenangan resmi berasal dari ketentuan atau peraturan yang telah disepakati bersama.
Dengan demikian, pembicara berperan sebagai sumber deontik yang mengizinkan, memerintahkan atau melarang terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut.
Hu bere ma hanimi mulak parlobei
Ku izinkanlah kalian pulang duluan

3.1.Izin
Izin memperlihatkan ciri makna yang menggambarkan bahwa teman bicara akan berperan sebagai pelaku, tetapi dalam bahasa Simalungun hal itu dapat dilakukan orang kedua atau ketiga. Pengungkapan modalitas izin ini diberi penanda dengan kata bere, paturut.
Bere ma au laho hu tiga
Paturut ma au laho hu tiga
Izinkanlah saya pergi ke pekan
Bere ma ia laho hu tiga
Paturut ma ia laho hu tiga
Izinkanlah dia pergi ke pekan
Penegasian modalitas izin ini hanya menambahkan kata ulang sebelum modalitas yang berarti tidak memberi izin atau larangan.
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturuti ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturut ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
3.2.Perintah
‘Perintah’ memperlihatkan persaman dengan ‘izin’ dalam hal kedudukan pembicara sebagai sumber deontik dan kedudukan teman bicara sebagai pelaku aktualisasasi peristiwa. Pengungkapannya berbeda karena ‘perintah’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kalimat imperative.
‘Perintah’ tidak hanya diartikan sebagai ‘perintah untuk melakukan sesuatu’, tetapi juga sebagai ‘perintah untuk tidak melakukan sesuatu’ yang disebut ‘larangan’.
Kata yang dipakai untuk melarang dalam bahasa Simalungun ialah kata ulang yang bermakna ‘jangan’, seperti contoh :
Ulang jolom boras in
Jangan pegang beras itu

4.Modalitas Dinamik
Sama halnya dengan modalitas deontik, modalitas dinamik juga mempersoalkan sikap pembicara terhadap aktualisasi peristiwa. Akan tetapi, pada modalitas dinamik aktualisasi pristiwaitu ditentukan oleh perikeadaan yang bersifat empiris,sedangkan pada modalitas deontik ialah kaidah sosial. Jadi modalitas dinamik bersifat objektif dan modalitas deontik berciri subjektif. Ciri makna yang demikian ada dalam bahasa Simalungun yang tampak pada pemakaian kata boi, sanggup dimana kata sanggup mungkin juga pengaruh dari bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam contoh berikut.
Boi do bana paluah dirina
Sanggup do bana paluah dirina
Dia dapat melepaskan dirinya
4.1 Kemampuan
Kemampuan pada modalitas dinamik dapat dinyatakan dengan pemakain kata boi, sanggup dan bulih . Kata bulih hanya dipakai untuk makna negasi yang bermakna ’tidak boleh’.
Boi do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Sanggup do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri
Penegasian modalitas kemampuan hanya dengan menambah kata lang /seng pada kata modalitas kemampuan.
Lang / seng boi ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Lang / seng sanggup ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Lang / seng bulih ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha tidak dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri.


VI. Kesimpulan Dan Referensi.
Kesimpulan.
Dari pembahasan modalitas dalam bahasa Simalungun ini dapat disimpulkan bahwa modalitas dalam bahasa Simalungun ádalah sebagai berikut.
1. Modalitas dalam bahasa Simalungun sebagian dinyatakan dengan kata. Selain itu, modalitas dalam bahasa Simalungun ada yang dinyatakan dengan frasa, tetapi jumlahnya hanya beberapa tidak sebanyak yang dinyatakn dengan kata. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas.
2. Penanda modalitas itu dikelompokkan menjadi empat yakni (1) penanda modalitas intensional, (2) penanda modalitas epistemik, (3) penanda modalitas deontik, dan (4) penanda modalitas dinamik.

(1). Modalitas Intensional
No. Makna Pengungkap modalitas
1.keinginan
ingin marosuh
masihol
ingin hatiku marosuh uhurhu
masihol uhurhu
hatiku ingin uhurhu marosuh
uhurhu masihol
kata hatiku nini uhurhu
inginnya hatiku rosuh uhurhu
sihol uhurhu
lebih ingin rosuhan uhurhu
siholan uhurhu

2. harapan
(ber)harap arap
berharap mengarap
lebih berharap mengarapkon
semoga andohar
3. ajakan
ayo eta
4. pembiaran
biarkan paturut
pasombuh
5. permintaan
ayolah nema
- ma
- hon
6. persetujuan
baiklah dear ma

(2). Modalitas Epistemik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemungkinan
mungkin hira / ra
2. keteramalan
perkiraan / kira hira
agat
arap
ahap
3.keharusan
harus maningon
mestinya patut
porlu
4.kepastian
pasti pasti
tontu
yakin pos uhur
percaya porsaya


(3). Modalitas Deontik
No Makna Pengungkap modalitas
1. izin
izinkan bere
paturut

(4). Modalitas Dinamik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemampuan
dapat boi
sanggup sanggup
tidak dapat lang / seng bulih

C. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan
seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan. Kata ulang juga bisa berarti ’jangan’.


Referensi.
Alwi, Hasan. 1992. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Guntur, Henry Tarigan, Drs. 1980. Folklore Simalungun. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Karno,B Ekowardono. 1999. Modalitas dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Saeed, John I. 1997. Semantics. Republic of China: Blackwell Publisher Ltd.



[1] Disampaikan dalam SEMINAR NASIONAL Budaya Etnik III, diselenggarakan oleh Univesitas Sumatera Utara, Medan 25 April 2009
[2] Dosen Kopertis Wilayah I.Dpk. Universitas Simalungun. e mail : anit_apurba@yahoo.com