20 Februari 2013

Kajian Kearifan Lokal pada Kuliner Lokal

Kajian Kearifan Lokal pada Kuliner Lokal "Arsik" Ikan Mas


Arsik adalah salah satu masakan khas kawasan Tapanuli yang populer. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning. Ikan mas adalah bahan utama, yang dalam penyiapannya tidak dibuang sisiknya.

Bumbu arsik sangat khas, mengandung beberapa komponen yang khas dari wilayah pegunungan Sumatera Utara, seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), selain bumbu khas Nusantara yang umum, seperti lengkuas dan serai. Bumbu-bumbu yang dihaluskan dilumuri pada tubuh ikan beberapa saat. Ikan kemudian dimasak dengan sedikit minyak dan api kecil hingga agak mengering.


Selain ikan mas, ikan laut seperti kembung dan kakap, dan daging juga dapat dijadikan bahan arsik. Secara umum bahan daging yang banyak digunakan adalah daging babi.

NIlai Kearifan Lokal dalam Tuturan Rajan Batak beserta Keturunannya

Raja Batak dan keturunannya   *Tarombo

diposting ulang oleh Admin.

Tarombo si Raja Batak (silsilah garis keturunan suku bangsa Batak) dimulai dari seorang individu bernama Raja Batak.

Si Raja Batak berdiam di lereng Pusuk Buhit, Sianjur Mulamula, namanya. Sehingga wilayah/lereng Pusuk Buhit dapat dikatakan sebagai daerah asal-muasal suku bangsa Indonesia, Batak, yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok, baik Indonesia maupun dunia.

Si Raja Batak mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu:

    Guru Tatea Bulan
    Raja Isumbaon

Guru Tatea Bulan mempunyai 5 (lima) orang putera, yaitu:

    Raja Biakbiak (Raja Uti)
    Saribu Raja
    Limbong Mulana
    Sagala Raja
    Silau Raja

Raja Biakbiak

Raja Biakbiak adalah putera sulung Guru Tatea Bulan.

Raja Biakbiak atau juga disebut dengan Raja Uti tidaklah mempunyai keturunan.
Saribu Raja

Saribu Raja adalah putera kedua Guru Tatea Bulan.

Saribu Raja mempunyai 2 (dua) orang putera yang dilahirkan oleh 2 (dua) isteri. Isteri pertama Saribu Raja adalah Siboru Pareme yang melahirkan Raja Lontung dan isteri kedua Saribu Raja adalah Nai Mangiring Laut yang melahirkan Raja Borbor.
Raja Lontung

Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) orang putera, yaitu:

    Sinaga, menurunkan marga Sinaga dan cabang-cabangnya
    Situmorang, menurunkan marga Situmorang dan cabang-cabangnya
    Pandiangan, menurunkan Perhutala dan Raja Humirtap, Raja Sonang (Toga Gultom, Toga Samosir, Toga Pakpahan, Toga Sitinjak) dan cabang-cabangnya
    Nainggolan, menurunkan marga Nainggolan dan cabang-cabangnya: Hutabalian, Lumbanraja, Lumbantungkup
    Simatupang, menurunkan marga Togatorop, Sianturi dan Siburian
    Aritonang, menurunkan marga Ompu Sunggu, Rajagukguk, dan Simaremare
    Siregar, menurunkan marga Siregar dan cabang-cabangnya

Raja Borbor

Keturunan Raja Borbor membentuk rumpun persatuan yang disebut dengan Borbor yang terdiri dari marga Pasaribu, Batubara, Harahap, Parapat, Matondang, Sipahutar, Tarihoran, Saruksuk, Lubis, Pulungan, Hutasuhut, Tanjung serta Daulay. Sementara, waktu Nai Mangiring masih hidup, dia dan adik-ipar (adik-adik Sariburaja), Limbongmulana, Sagala Raja dan Silau Raja membuat suatu ikatan perjanjian yang disebut "padan" yang menyatakan bahwa "pomparan" mereka semua, seterusnya disebut dengan "Borbor Marsada". Disini turunan dari Boru Pareme tidak turut serta.
Limbong Mulana

Keturunan Limbong Mulana sebagai putera ketiga Guru Tatea Bulan, hingga kini tetap memakai marga Limbong.
Sagala Raja

Keturunan Sagala Raja sebagai putera keempat Guru Tatea Bulan tetap memakai marga Sagala.
Silau Raja

Silau Raja sebagai putera bungsu Guru Tatea Bulan menurunkan marga Malau, Manik, Ambarita.
Raja Isumbaon

Raja Isumbaon adalah putera kedua/bungsu Raja Batak. Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang putera, yaitu:

    Tuan Sorimangaraja
    Raja Asiasi
    Sangkar Somalidang

Khusus keturunan Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang hingga saat ini belum diketahui pasti siapa keturunan mereka. Ada yang berpendapat, Sangkar Somalidang sekaligus Sangkar Sobaoa. Pengertian "sangkar sobaoa" ialah sesungguhnya laki-laki namun sifat-pembawaannya perempuan, atau banci. Sedang Raja Asiasi dikatakan berkelana ("adventure") ke Aceh.
Tuan Sorimangaraja

Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 (tiga) orang putera, yaitu:

    Ompu Tuan Nabolon, lahir dari isteri Sorimangaraja, Nai Ambaton (nama kecil, Boru Paromas/Boru Antingantingsabungan)
    Datu Pejel/ Tuan Sorbadijae, lahir dari isteri Sorimangaraja, Nai Rasaon (nama kecil, Boru Bidinglaut)
    Tuan Sorbadibanua, lahir dari isteri Sorimangaraja, Nai Suanon/Nai Tungkaon (nama kecil, Boru Parsanggul Haomasan)

Naiambaton, kurang pas, seharusnya atau aslinya adalah Nai Ambaton) dan Nairasaon seharusnya atau aslinya Nai Rasaon, tidak didahului kata "Raja". Karena yang dimaksud "raja" ialah pomparannya yang LAKI-LAKI. Kedua orang tersebut, Nai Ambaton dan Nai Rasaon adalah Ibu. Maka seharusnya ada pertukaran letak suku kata, bukan "pomparan raja naiambaton atau nairasan" tetapi seharusnya adalah "raja pomparan ni nai ambaton" atau raja pomparan ni nai rasaon" dan seterusnya. Kata "Nai" dalam bahasa Batak asli adalah panggilan-kehormatan, semacam "gelar". Karena kata Nai bagi seorang ibu dan kata "Amani" bagi seorang bapak menunjukkan bahwa pasangan suami-isteri yang bersangkutan sudah berhasil naik setingkat dalam status sosial bermasyarakat, dalam arti ibu dan bapak yang bersangkutan sehari-hari dipanggil dengan nama anak pertama, lepas dari laki atau perempuan. Namun kepada sang bapak, didepan nama anak-pertama tsb ditambahkan "Amani", semisal anak pertama tsb ialah si Bunga, maka si bapak dipanggil sehari-hari, "Amani Bunga". Sementara si ibu sehari-hari dipanggil "Nai Bunga", karena anak-pertama dari perkawinan mereka berdua diberi nama si Bunga. Semisal, sudah lahir anak pertama dan ternyata laki-laki, namun belum diberi nama, maka secara otomatis bernama "Ucok", sementara kalau yang lahir tersebut adalah perempuan, otomatis bernama "Butet". Sepanjang anak pertama lahir tersebut belum diberi nama, maka kedua orang, suami-isteri tersebut akan dipanggil Amani Ucuk/ Nai Ucok atau Amani/ Nai Butet. Di wilayah/daerah p. Samosir hal ini dianggap sangat elementer, namun sangat penting dalam etika berbicara, berkomunikasi dan pergaulan-bermasyarakat sehari-hari. Orang yang memanggil orang lain dengan panggilan "gelar", merasa menghormati orang yang bersangkutan dan orang yang dipanggil akan merasa dihormati. Kalau sepasang suami-isteri masih dalam penantian anak dari perkawinan, maka ada dua opsi. Pertama, diberi nama yang agak abstrak, misalnya Amani/ Nai Paima. Paima, secara harfiah= "menanti". Opsi kedua, mengambil-pinjam nama anak kedua atau ketiga atau keempat dari abang-kandung sang suami, yang belum dipergunakan oleh orang lain dalam kerluarga dekat. Bagi kita yang sudah hidup dikota, kita dipanggil dengan nama kecil kita, tidak masalah. Lain halnya dengan masyarakat kampung yang masih terikat dengan nilai dan tradisi lama secara turun-temurun. Masyarakat di kampung akan merasa plong, bebas, nyaman dan tidak terbebani, bila memanggil seseorang dengan gelar. Contoh di atas, Amani Bunga untuk sang bapak dan Nai Bunga untuk sang ibu.

Demikian halnya atas dua nama yang diberi koment di atas. Nai Ambaton ("panggoaran"), nama kecil ialah si Boru Anting-anting Sabungan/Boru Paromas (puteri Guru Tatea Bulan, "mar pariban"/"sisters" dengan si Boru Pareme). Si Boru Paromas adalah isteri pertama dari Tuan Sorimangaraja (anak dari Raja Isumbaon). Anak yg dilahirkan si Boru Paromas/Nai Ambaton, satu, bernama Ompu Tuan Nabolon; namun ada juga penulis yang menyebut namanya Ompu Sorbadijulu. Anak-anak O Tuan Nabolon inilah si Bolontua (Simbolon - seluruhnya), Tambatua - melahirkan banyak marga-marga, Saragitua - melahirkan banyak marga-marga, dan Muntetua - yang juga melahirkan banyak marga-marga. Estimasi terkini menjadi 70-an marga yang disebut dengan PARNA (Parsadaan Nai Ambaton) "na boloni".

Isteri kedua Tuan Sorimangaraja ialah si Boru Bidinglaut, yang kemudian "mar-panggoaran" Nai Rasaon. Melahirkan satu anak, bernama Datu Pejel; namun ada penulis menyebut namanya Ompu Tuan Sorbadijae. Anak-anaknya ada dua, yang lahir sekaligus dalam satu "lambutan" bernama Raja Mangarerak dan Raja Mangatur. Pomparan Raja Mangarerak ialah seluruhnya marga Manurung; sementara pomparan Raja Mangatur, ialah seluruhnya marga-marga Sitorus, Sirait dan Butarbutar. Panjang cerita/"turiturian" dibalik penyebutan 4 marga tersebut.

Isteri ketiga Tuan Sorimangaraja ialah Nai Suanon/ Nai Tungkaon, nama kecilnya ialah Boru Parsanggul Haomasan. Dalam tarombo pomparan Guru Tateabulan, diberbagai literatur nama ini tidak tertulis. Ibu ini melahirkan satu anak, bernama Tuan Sorbadibanua. Dari Tuan Sorbadibanua lahir 8 anak laki-laki, no 1 si Bagotnipohan, turunannya termasuk "Hula-hula anak manjae" SBY, keluarga Aulia Pohan. Satu lagi di antara 8 itu ada Silahi Sabungan, termasuk Letjend (Prn) TB Silalahi, anggota Watimpres SBY. Satu lagi di antara 8 itu ialah Raja Sobu, asal dari marga-marga Sitompul, si Raja Hasibuan kemudian (disamping masih tetap ada Hasibuan) menurunkan marga-marga Hutabarat(si Raja Nabarat), Panggabean (bercabang lagi dgn Simorangkir), Hutagalung, Huta Toruan (bercabang dua yaitu marga-marga Hutapea-Tarutung/Silindung & Lumbantobing). Catatan: ada juga Hutapea di Laguboti, tapi punya tarombo tersendiri.

Khusus tentang turunan Ompu Tuan Nabolon, menurut kebanyakan literatur adalah: No 1, si Bolontua (sampai sekarang masih satu) yg disebut Simbolon, no 2, Tambatua (1 Tonggor Dolok/Rumabolon, 2 Lumban Tongatonga, 3 Lumbantoruan), no 3, Saragitua, no 4, Muntetua. Mereka berempat, si Bolontua, Tambatua, Saragitua dan Muntetua dilahirkan oleh 2 Ibu: pertama, boru Pasaribu, kedua boru Malau (Silau Raja). Penyebutan nama anak-anaknya tsb oleh Ompu Tuan Nabolon pun, konon, tidak asal-asalan tapi harus bijaksana ("wise"), seperti cerita Raja Salomo yang bijak, karena dilahirkan oleh 2 orang isteri. Ada isteri pertama dan ada isteri kedua. Istilah kerennya, poligami. Sebagai perbandingan, ingatlah Abraham. Anak-anaknya antara Ismael dgn Ishak. Yg lahir duluan, Ismael, namun lahir dari pembantu, Hagar. Maka Ishak yang lahir dari sang "permaisuri", yaitu Sarah, itulah yg diberkati oleh Abraham dan Yahwe yang disembah oleh Abraham. Sekedar perbandingan saja lah.-->
Raja Nai Ambaton

Keturunan Raja Naiambaton dikenal sebagai keturunan yang terdiri dari berpuluh-puluh marga yang tidak boleh saling kawin (ndang boi masiolian). Kumpulan persatuan rumpun keturunan Raja Naiambaton disebut dengan PARNA (Parsadaan Raja Nai Ambaton). Catatan: huruf R dalam kata PARNA bukan representasi 'raja', tapi PAR=Parsadaan ("persatuan"), NA=Nai Ambaton.

Marga-marga keturunan Raja Naiambaton (Datu Sindar Mataniari) , antara lain: Raja Sitempang dan Bolon Tua. Dan cabang-cabangnya: Dari Istri Siboru Biding laut III Pomparan Raja Sitempang

    Raja Sitempang ( Sitanggang Bau, Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Sigalingging, Sitanggang Gusar dari Sitanggang Bau, Sidauruk, Manihuruk dari Sitanggang Silo, Sigalingging Ke Dairi (Banuarea, Manik, Gaja, Tendang, Rampu, Kecupak, Kombi,Boang Manalu, Barasa, Turutan, Siambataon), Simanihuruk(Ginting Manik ke Tanah Karo)

Dari IStri SIboru Anting Anting Pomparan Raja Nabolon

    Simbolon Tua (Simbolon, Tinambunan, Tumanggor, Turutan, Pinayungan, Maharaja, Nahampun)
    Tamba Tua: Tonggor Dolok, Lumbang Tongatonga, Lumban Toruan. Lumban Tongatonga beranak dua: Rumaganjang dan Lumbanuruk. Rumaganjang beranak 3: Guru Sateabulan, Guru Sinanti dan Datu Parngongo. Datu Parngongo beranak 7, satu di antaranya bernama Guru Sojoloan (Guru Sotindion). Dari Guru Sojoloan/Guru Sotindion inilah Sidabutar, Sijabat, Siadari, Sidabalok yang biasa disebut "pomparan ni si opat ama".
    Munte Tua (Munte)
    Saragi Tua (Saing, Simalango, Simarmata, Nadeak, Sidabungke, Rumahorbo, Sitio, Napitu). Tiga marga dintaranya, yang konon turunan dari satu leluhur, yaitu RumahOrbo, NApitu dan SiTIO, akronim (RoNaTio ).

Nai Rasaon

Nai Rasaon adalah kelompok marga-marga dari suku bangsa Batak Toba yang berasal dari daerah Sibisa. Marga-marga keturunan Nai Rasaon, adalah: Manurung, Sitorus (menurunkan Pane, Dori, Boltok), Sirait, Butarbutar. MANURUNG menurunkan HUTAGURGUR HUTAGAOL dan SIMANORONI.

Si Raja Batak adalah S-1, Raja Isumbaon - setaraf dengan Guru Tatea Bulan adalah S-2, maka Tuan Sorimangaraja (anak Raja Isumbaon) adalah S-3. Dari Ibu, Nai Rasaon {nama kecil: si Boru Bidinglaut, Isteri II Tuan Sorimangaraja (S-3)/Anak no. 2 Ompu Raja Isumbaon (S-2)} beranak satu, yaitu Datu Pejel/Ompu Tuan Sorbadijae. (S=Sundut/generasi). Datu Pejel, dua anaknya sekali lahir (kembar-dua), namun tidak sebagaimana umumnya lahir kembar secara satu per satu, melainkan lahir kembar-dua didalam satu "lambutan". Yang dimaksud lambutan, barangkali adalah jaringan selaput yang membungkus bayi ketika didalam kandungan. Pada waktunya yang tepat dikemudian hari diberi nama: Raja Mangarerak dan Raja Mangatur si "Dua-sahali tubu". Pomparan Raja Toga Manurung berkembang dari Raja Mangarerak; Sementara pomparan Raja Toga Sitorus, Raja Toga Sirait dan Raja Toga Butarbutar berkembang dari Raja Mangatur. Meski empat marga ini sesungguhnya berasal dari satu Ompu, Datu Pejel, namun umumnya, berawal dari wilayah Porsea ke-empat marga ini sudah saling kawin-mawin. Maka prinsip satu keluarga besar "na so boi mar-si-oli-an" telah ditinggalkan. Proses ini diperkirakan sudah dimulai sejak 5 - 6 generasi sebelum generasi yang sekarang, atau kira-kira 200 tahun yl. Sedang diwilayah asal/asli Sibisa dan Ajibata perasaan bersaudara itu masih kental. Namun khususnya diwilayah Ajibata, antara Sirait dan Manurung, pada generasi yang sekarang, telah ada yang memulai kawin-mawin. Sementara antara Sirait terhadap Sitorus dan Butarbutar belum ada yang memulai. Tetapi didaerah perantauan, misalnya di p. Jawa telah ada yang merintis. aaa
Tuan Sorbadibanua

Tuan Sorbadibanua mempunyai 8 (delapan) putera, yaitu:

    Sibagotnipohan
    Sipaettua(Pangulu Ponggok, Partano Nai Borgin,Puraja Laguboti(Pangaribuan,Hutapea)
    Silahisabungan
    Raja Oloan
    Raja Hutalima
    Raja Sumba
    Raja Sobu
    Raja Naipospos

Sibagotnipohan Sibagotnipohan sebagai cikal-bakal marga Pohan mempunyai 4 (empat) putera, yaitu:

    Tuan Sihubil, sebagai cikal-bakal marga Tampubolon dan cabang-cabangnya
    Tuan Somanimbil, sebagai cikal-bakal marga Siahaan, Simanjuntak, dan Hutagaol
    Tuan Dibangarna, sebagai cikal-bakal marga Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, dan cabang-cabangnya
    Sonak Malela, menurunkan marga Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan Pardede

Sipaettua Marga-marga keturunan Sipaettua, antara lain: Hutahaean, Hutajulu, Aruan, Sibarani, Sibuea, Pangaribuan, dan Hutapea

Silahisabungan

Delapan Anak Keturunan Silahisabungan dari 2 istri yakni :

Istri Pertama, Pingganmatio Padangbatanghari, anaknya : 1.Loho Raja (Sihaloho) 2.Tungkir Raja (Situngkir) 3.Sondi Raja (Rumasondi) 4.Butar Raja (Sidabutar) 5.Debang Raja (Sidebang) 6.Bariba Raja (Sidabariba) 7.Batu Raja (Pintubatu)

Istri Kedua,Sinailing Nairasaon, anaknya : 8. Tambun Raja Alias Raja Itano Alias Raja Tambun (Tambun,Tambunan,Daulay)

Selain marga pokok di atas masih ada lagi marga marga cabang keturunan Silahisabungan, yakni : Sipangkar, Sembiring, Sipayung, Silalahi, Dolok Saribu, Sinurat, Nadadap, Naiborhu,Maha, Sigiro, Daulay.


Raja Oloan Raja Oloan mempunyai 6 (enam) orang putera, yaitu:

    Naibaho, yang merupakan cikal-bakal marga Naibaho dan cabang-cabangnya
    Sigodang Ulu, yang merupakan cikal-bakal marga Sihotang dan cabang-cabangnya
    Bakara, yang merupakan cikal-bakal marga Bakara
    Sinambela, yang merupakan cikal-bakal marga Sinambela
    Sihite, yang merupakan cikal-bakl marga Sihite
    Manullang, yang merupakan cikal-bakal marga Manullang

Raja Hutalima Raja Hutalima tidak mempunyai keturunan

Raja Sumba Raja Sumba mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu:

    Simamora, yang merupakan cikal-bakal marga Purba, Manalu, Simamora Debata Raja, dan Rambe
    Sihombing, yang merupakan cikal-akal marga Silaban, Sihombing Lumban Toruan, Nababan, dan Hutasoit

SILABAN(BORSAK JUNJUNGAN) 1.SILABAN (BORSAK JUNGJUNGAN) 2.OP. RATUS 3.AMA RATUS 4.OP.RAJADIOMAOMA 5.a. DATU BIRA (SITIO); b. DATU MANGAMBE/MANGAMBIT (SIPONJOT) c. DATU GULUAN

Raja Sobu Marga-marga keturunan Raja Sobu, antara lain: Sitompul dan si Raja Hasibuan. Dari si Raja Hasibuan berkembang lagi, yang tetap tinggal di Toba tetap Hasibuan, sedang "pomparan" Ompu Guru Mangaloksa yang merintis hidupnya ke wilayah Silindung, anak-anaknya berkembang menjadi si Raja Nabarat (Hutabarat), si Raja Panggabean (cabangnya,Simorangkir), si Raja Hutagalung dan si Raja Hutatoruan. Si Raja Hutatoruan dua anaknya, itulah Hutapea (Silindung/Tarutung, beda dari Hutapea - Toba/Laguboti), dan Lumbantobing (biasa disingkat L. Tobing=Lumbantobing). Marga-marga tsb (diluar marga Hasibuan), secara "specific" pomparan Guru Mangaloksa dinamai "Pomparan ni si Opat Pu(i)soran". Mana ejaan yang benar dalam bahasa Batak, antara Pusoran atau Pisoran, entahlah. Marga-marga tersebut di atas masih tetap alias belum bercabang hingga sekarang. Kecuali pencabangan untuk tujuan penyebutan internal, semisal Hutabarat. Ada Hutabarat Sosunggulon, Hutabarat Hapoltahan, Hutabarat Pohan. Dari tataran ini barulah dibagi lagi menjadi "mar-ompu-ompu". Sebagai catatan, khusus dari pomparan Guru Mangaloksa, setiap anggota marga-marga tersebut mengingat nomornya masing-masing, termasuk Boru. Semisal di Hutabarat, berkenalan seorang Hutabarat dengan seorang lain Hutabarat. Tidak lagi ditanya, Hutabarat Sosunggulon? atau Hapoltahan? atau Pohan? dst. Tetapi langsung ditanya, "nomor berapa"?, termasuk Boru. Sehingga masing-masing tahu "standing position", memanggil abang/adik, bapatua/bapauda, dst, termasuk "tutur" untuk Boru. Hal seperti ini perlu dicontoh karena dapat memotivasi orang lain mencari asal-usul ("identitas") "ha-batahonna", tentu setelah indentitas keyakinan dan kepercayaan masing-masing individu.


Raja Naipospos Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:

    Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
    Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
    Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
    Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
    Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol

Padan atau janji antar marga

Dalam suku bangsa Batak, selain marga yang satu nenek moyang (satu marga) ditabukan untuk saling kawin, dikenal juga padan (janji atau ikrar) antar marga yang berbeda untuk tidak saling kawin. Marga-marga tersebut sebenarnya bukanlah satu nenek moyang lagi dalam rumpun persatuan atau pun paradaton, tetapi marga-marga tersebut telah diikat padan (janji atau ikrar) agar keturunan mereka tidak saling kawin oleh para nenek moyang pada zaman dahulu. Antar marga yang diikat padan itu disebut dongan padan.

Marga-marga yang mempunyai padan khusus untuk tidak saling kawin, anatara lain:

    Sihotang dengan Naipospos (Marbun)
    Naibaho dengan Sihombing Lumban Toruan
    Nainggolan dengan Siregar
    Tampubolon dengan Silalahi
    dan lain sebagainya

Sihotang dengan Naipospos (Marbun)

Seluruh keturunan Raja Naipospos diikat janji (padan) untuk tidak saling kawin dengan keturunan Raja Oloan yang bermarga Sihotang. Sehingga Sihotang disebut sebagai dongan padan. Memang pada awalnya pembentuk janji ini adalah Marbun. Namun ditarik suatu kesepakatan bersama bahwa keturunan Raja Naipospos bersaudara (na marhahamaranggi) dengan keturunan Sihotang. Hal ini dapat dilihat bersama bahwa hingga saat ini seluruh marga NAIPOSPOS SILIMA SAAMA (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun) tidak ada yang kawin dengan marga Sihotang. Pengalaman di lapangan bahwa memang ada-ada saja orang yang mempersoalkan padan ini. Mereka mengatakan bahwa hanya Marbun sajalah yang marpadan dengan Sihotang tanpa mengikutsertakan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Perlu diketahui bersama bahwa telah ada ikrar (padan) para nenek moyang (ompu) bahwa padan ni hahana, padan ni angina; jala padan ni angina, padan ni hahana (ikrar kakanda juga ikrar adinda dan ikrar adinda juga ikrar kakanda). Benar Marbunlah pembentuk padan pertama terhadap Sihotang. Tetapi oleh karena Marbun sebagai anggi doli Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, maka turut juga serta dalam padan dengan Sihotang. Contoh lain dapat pula dilihat bersama bahwa sesungguhnya Sibagariang tidaklah ada ikrar (padan) sama sekali untuk tidak saling kawin (masiolian) dengan Marbun. Tetapi oleh karena Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang marpadan dengan Marbun untuk tidak saling kawin maka Sibagariang pun turut serta dengan sendirinya oleh karena ikrar (padan) para nenek moyang (ompu) yang telah disebutkan di atas. Sehingga suatu padan yang umum bahwa keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang) tidak boleh saling kawin dengan keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun).

Demikian pula halnya seluruh marga-marga keturunan Raja Naipospos (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, dan Marbun Lumban Gaol) tidak boleh saling kawin dengan keturunan Sihotang.

31 Oktober 2012

MUNAS XIX IMBASADI 2012 Sudah Berakhir.

Sebanyak 18 perguruan tinggi (PT) di Indonesia mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Indonesia (Imbasadi) XIX, di Kampus Unpad Jatinangor, Jum’at-Senin (12-15/10).
Ketua Pelaksana Kegiatan, Anggy Endrawan, mengatakan, peserta munas berasal dari PT di Indonesia yang memiliki jurusan sastra dan bahasa daerah. Kecuali Papua, kata dia, hampir seluruh PT di Indonesia yang memiliki jurusan itu mengirimkan utusannya dalam acara itu.
“Agenda yang digelar dalam munas yaitu seminar, munas, dan wisata budaya,” kata Anggi seusai pembukaan di Gedung PSBJ Unpad Jatinangor, Jum’at (12/10).
Menurut Anggy, tema utama yang diusung dalam munas yaitu tekad untuk menggali budaya lokal yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia dalam menghadapi beragam persoalan bangsa yang muncul saat ini.
“Kearifan lokal dipandang lebih efektif untuk menjadi solusi menghadapi persoalan globalitas. Upaya untuk kembali ke akar budaya di masing-masing daerah harus menjadi pijakan dalam menyelesaikan persoalan pada masa kini dan masa mendatang,” ujar AnggUy.
Ketua Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Teddi Muhtadin, M.Hum., berharap agar ke depan muncul generasi baru yang sadar atas pentingnya memperhatikan budaya lokal.
“Saat peserta munas pulang kembali ke daerahnya masing-masing diharapkan akan membawa pencerahan kepada masyarakat. Perhatian terhadap pengembangan kearifan budaya lokal  harus terus-menerus dilakukan,” kata Teddi.
agenda tahun berikutnya, pelaksanaan MUNAS berikutnya di SOLO Universitas SebelasMaret, tunggu tanggal pemberitahuannya.

28 Oktober 2011

Seminar Nasional Budaya Etnik IV, 2011

 
Seminar Nasional Budaya Etnik IV
Departemen Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya, USU
Dalam rangka DIES NATALIS Ke-46 Fakultas Ilmu Budaya USU
Peranan Kearifan Lokal Dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Wisma Pariwisata USU, Jalan Universitas 26 Medan, Sumatera Utara
30 November2011
Laman : sastra.daerahusu@yahoo.co.id


I.   LATAR BELAKANG
Keanekaragaman suku bangsa yang ada di Indonesia ini merupakan anugerah dari Tuhan yang tidak ternilai harganya. Ini merupakan kenyataan hidup sekaligus menjadi asset bangsa. Dari keberagaman ini dapat dipupuk rasa kesatuan dan persatuan yang mampu mengangkat derajat serta marwah bangsa ini di dunia internasional.
          Setiap suku memiliki produk budaya yang lahir dari gagasan, ide, konsep, dan pemikiran bersama dalam komunitas tersebut, yang dipakai sebagai pedoman dan acuan hidup. Oleh sebab itu, budaya merupakan manifestasi dari cara berpikir manusia atau komunitas tertentu.
Budaya setiap suku tidaklah bersifat statis, akan tetapi dinamis. Dinamika atau perubahan kebudayaan ini dapat terjadi karena berbagai hal. Secara fisik, bertambahnya penduduk, berpindahnya penduduk, masuknya penduduk asing, masuknya peralatan baru, mudahnya akses masuk ke daerah, juga dapat menyebabkan perubahan pada kebudayaan tertentu. Sedangkan dalam lingkup hubungan antarmanusia, hubungan individual dan kelompok dapat juga melatarbelakangi perubahan kebudayaan. Dengan kata lain, perkembangan dan perubahan akan selalu terjadi, baik dengan evolusi, difusi, maupun akulturasi.
Akhir-akhir ini, masalah kearifan lokal banyak diperbincangkan. Sebenarnya apakah kearifan lokal itu? Secara etimologi, kearifan lokal berasal dari dua kata yakni kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom adalah kearifan atau sama dengan kebijaksanaan. Dengan demikian, kearifan lokal (local wisdom) adalah gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik sehingga akan diterima, diikuti, bahkan dilaksanakan oleh masyarakatnya.

Membahas tentang kearifan lokal sama artinya memperbincangkan potensi dan jati diri bangsa. Prof. Nyoman Sirtha (sebagaimana dikutip oleh Sartini) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Fungsi kearifan lokal pun bermacam-macam, yakni: (1) untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam, (2) untuk pengembangan sumber daya manusia, (3) untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, (4) sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan, (5) bermakna sosial, seperti berbagai upacara, (6) bermakna etika dan moral, dan (7) bermakna politik. Dari uraian fungsi di atas terlihat bahwa ranah kearifan lokal itu demikian luas, mulai dari yang bersifat teologis, pragmatis, dan teknis.       Sebagai salah satu contoh, konsep Dalihan Na Tolu, merupakan salah satu kearifan lokal yang berfungsi mengatur etika dan moral dalam hidup dan kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba.  Demikian juga dengan tradisi berpantun, ritual jamuan laut, pantang larang, dan lainnya  yang ada pada masyarakat Melayu.
            Setiap daerah tentu memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda. Namun kebhinekaan ini tidaklah dipertentangkan bahkan harus tetap dipersandingkan. Sebab, keberagaman ini merupakan manifestasi gagasan dan nilai sehingga saling menguat dan untuk meningkatkan wawasan dalam saling apresiasi. Kebhinekaan akan menjadi bahan perbandingan untuk menemukan persamaan pandangan hidup dalam membentuk karakter bangsa.  

II. TUJUAN
Secara umum, seminar ini dilaksanakan agar peserta : (1) memahami konsep kearifan lokal, (2) memahami keanekaragaman kearifan lokal, (3) dapat merealisasikan kearifan lokal sebagai potensi budaya bangsa, dan, (4) mampu mewujudkan kearifan lokal dalam pembentukan karakter bangsa.

III. M A T E R I
Adapun materi yang akan disajikan pada seminar ini terdiri atas :
1)    Peran kearifan lokal dalam pengembangan sumber daya manusia.
2)    Peran kearifan lokal dalam pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
3)    Peran kearifan lokal dalam hidup dan berkehidupan social.
4)    Peran kearifan lokal dalam pembentukan etika dan moral.
5)    Peran kearifan lokal dalam pembentukan karakter bangsa.

IV.   PENYAJI/PEMAKALAH
1)    Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D. (Guru Besar UNIMED dan Kepala Balai Bahasa Medan)
2)    Drs. Mhd. Takari, M.Hum., Ph.D. (Ketua Departemen Etnomusikologi FIB USU Medan)
3)    Nelson Lumbantoruan, S.S.,M.Hum.  (Staf Peneliti Balai Bahasa Medan)
4)    Dr. Abdurahman Adisaputram M.Hum. (Staf Pengajar UNIMED)
Ketentuan:
  • Makalah yang diterima untuk ditampilkan harus ditulis antara 15-25 halaman atau sekitar 5.000 kata, diketik di atas kertas A4 dengan jarak 1,5 spasi dan dikirim langsung ke Sekretariat Panitia, juga bisa via email : sastra.daerahusu@yahoo.co.id, dan diterima panitia paling lambat 24 November 2011
  • Makalah akan disusun dalam Proceeding
V. TEMPAT
Seminar ini akan diadakan di AULA WISMA PARIWISATA USU, Jalan Universitas No.26 Kampus USU Padang Bulan Medan 20155.
VI. JADWAL KEGIATAN
Ø  Hari Rabu (30 November 2011)
08.30-09.00    : Registrasi Peserta Seminar
09.00-09.30     : Pembukaan Seminar
09.30--09.45    : Snack
09.45-12.15     : Sesi 1 (3 makalah)
12.15-13.30     : ISOMA
13.30-14.45     : Sesi 2 (2 makalah)
14.45-15.15     : Coffee Break
15.15-15.30     : Penutupan Seminar

VII. METODE
Seminar Nasional Budaya Etnik IV ini dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis Ke-46 Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, dengan tema “Peranan Kearifan Lokal dalam Pembentukan Karakter Bangsa dengan menggunakan pendektan pendidikan formal, intelektual, dan dewasa dengan memaksimalkan kontribusi peserta. Selain ceramah dan tanya jawab/diskusi, peserta juga terlibat aktif baik pribadi maupun kelompok, di samping disediakan waktu untuk kajian mandiri dan konsultasi out line/proposal tesis atau disertasi pribadi dengan fasilitator.

VIII. PESERTA
Peserta seminar nasional ini diharapkan berasal dari kalangan dosen/staf pengajar perguruan tinggi, mahasiswa pascasarjana, peneliti, praktisi sosial budaya, guru, dan peminat lainnya, terutama yang berminat mendalami tentang kearifan lokal, dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu linguistik, kesusasteraan, antropologi, budaya, sosiologi, hukum, filsafat, psikologi, dan kesenian. Jumlah peserta dibatasi sebanyak 150 (seratus lima puluh) orang dengan syarat :
a.    Mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran
b.    Memakai tanda pengenal peserta pada saat seminar dilaksanakan 
c.  Hadir tepat waktu sesuai jadwal pelaksanaan yang sudah ditetapkan 


  1. Contact Person : Jamorlan 081375039600, Rozanna  085275776566, Risdo 08126309069
    Sekretariat : Departemen Sastra Daerah FIB Universitas Sumatera Utara, Medan-Sumatera Utara
    Jalan Universitas 19 Kampus USU Medan, 20155, email : sastra.daerahusu@yahoo.co.id

Susunan Kepanitiaan Seminar Nasional Budaya Etnik 2011


15 Desember 2010

Selamat dan Sukses...................!!!!!

PERAYAAN NATAL BERSAMA ANAK PANTI ASUHAN
Selamat dan Sukses...................!!!!!

PERAYAAN NATAL BERSAMA ANAK PANTI ASUHAN

IKATAN MAHASISWA SASTRA DAERAH, FAKULTAS SASTRA, USU

10 Desember 2010, di Gedung GKPS Padang Bulan Medan

Jam : 18.00 WIB



I. LATAR BELAKANG KEGIATAN/DASAR PEMIKIRAN

Negara Indonesia adalah Negara yang beragama, dimana setiap warga Negara melaksanakan ajaran dan ibadahnya sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dalam ajaran agama masing-masing itu, manusia dituntut agar percaya, beriman dan amal dalam kehidupannya baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai salah satu agama yang ada di dunia adalah agama Nasrani. Dalam agama tersebut disebutkan manusia diciptakan untuk memelihara bumi dengan kata lain manusia tetap patuh dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayainyasebagai Juru selamat. Patuh dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah melakukan, melaksanakan, dan nematuhi segala perintahnyadan menjauhi segala larangannya. Umat Nasrani mempunyai perayaan-perayaan keagamaan yang pantas dan harus dilaksanakan dan dari situ manusia dapat memperoleh sukacita Iman dalam kehidupannya. Salah satu diantaranya adalah perayaan Natal.

Sebagai seorang Mahasiswa kita diminta oleh Allah untuk hidup sebagai anak-anak terang yang dapat memancarkan terang Kristus dalam hidup kita. Tetapi sekarang ini terkadang kita masih sulit untuk hidup dalam terang kasih Kristus, malah kita lebih senang hidup dalm dosa. Kemauan akan diri sendiri pun masih tidak bisa dimengerti, kasih Allah dalam hidup kita masih kurang dapat kita rasakan karenakita hanya mementingkan keinginan duniawi yang memberikan kesenangan pada diri sendiri. Sebagai seoran Mahasiswa Kristen kita belum bisa menunjukkan perilaku yang membedakan kita dari orang lain dalam kebesaran iman yang ada di dalam diri kita masing-masing pada perayaan Natal ini.

Perayaan Natal merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh kaum Nasrani, dimana dalam perayaan Natal adalah memperingati Kelahiran Yesus Kristus sebagai Putra Bapa yang tunggal yang di utus kedunia untuk menebus dosa manusia. Hal inilah yang menjadi salah satu rujukan/ajakan kepada setiap manusia yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak sekedar perayaan saja. Oleh kerna itu, selaku masyarakat kampus yang dinamai dengan Ikatan MahasiswaSastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara turut mengambil bagian dan niat yang tumbuh dari dalam dirinya selaku manusia yang beragama untuk merayakan Natal bersama Anak Panti Asuhan. Kami keluarga besar Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah (IMSAD) mencoba berbagi rasa dalam bentuk Perayaan Natal bersama Anak Panti Asuhan, agar bersama-sama menikmati hidup rukun beragama, kebersamaan dan bersosialisasi yang utuh agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Dengan perayaan Natal ini mudah-mudahan membuat hti kita semua tetap mempercayai Kristus yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita semua. Oleh karena itu, mudah-mudahan bingkisan yang tidak terlalu besar ini dapat membantu dan meringankan kebutuhan anak Panti Asuhan.

II. NAMA KEGIATAN

Nama kegiatan ini adalah Perayaan Natal Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah bersama Anak Panti Asuhan.

III. TUJUAN KEGIATAN

Adapun tujuan kegiatan Perayaan Natal ini adalah sebagai berikut :

Menumbuhkan Iman dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menumbuhkan rasa solidaritas dan rasa kepedulian kepada sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Menjadikan Perayaan Natal ini sebagai jembatan untuk membantu meringankan beban Anak Panti Asuhan.

Menjalin rasa kekeluargaan dan solidaritas antar mahasiswa

Lampiran I

Susunan Kepanitiaan

Pelindung : Dekan Fakultas Sastra Univ. Sumatera Utara

Ketua Departemen Sastra Daerah FS USU

Penaseht :

Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S

Drs. Herlina Ginting, M.Hum

Dra. Asriaty. R. Purba, M.Hum

Lizen Pasaribu, SS

Penanggung jawab : Ketua HMD IMSAD

Panitia Pengarah :

- Bob Hendro Sihombing

- Christanto Penjaitan

- Girson Tarigan


Panitia Pelaksana :

Ketua : Josua Viktor Purba

Sekretaris : Jainal Purba

Bendahara : Rayking Simaremare

Divisi – Divisi

Divisi Acara - Kerohanian

Koordinator : Satria

Divisi Explorasi Dana

Koordinator : Frans Martua Panjaitan



Divisi Konsumsi

Koordinator : Hotmida



Divisi Publikasi dan Dokumentasi

Koordinator : Japatar purba

Anggota :

Divisi Humas

Koordinator : Dahniel Arfandy Gultom



Divisi Perlengkapan

Koordinator : Nikson Sihombing



Divisi Keamanan

Coordinator : Eka Riwanda Sitepu

23 Oktober 2010

http://imbasadi1993.blogspot.com

Term of Reference

Temu Jujaro Mungare Nusantara

Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan

24-26 November 2010

Universitas Pattimura – Ambon

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI) adalah sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional yang bertujuan membina dan meningkatkan intelektualitas serta kreativitas mahasiswa dalam rangka menelaah serta meneliti budaya lokal sebagai sarana kontrol kehidupan berbangsa dan bernegara. Hasil penelaahan dan penelitian ini kemudian dipresentasikan dalam acara pertemuan tahunan yang berupa rangkaian kegiatan utama seminar nasional, temu ilmiah, dan musyawarah nasional. Pada tahun 2010 ini, pertemuan IMBASADI akan diselenggarakan di Universitas Pattimura - Ambon. Selaras dengan tujuan Universitas Pattimura yaitu menjadi universitas riset kelas dunia yang beridentitas kerakyatan dan berakar pada sosio-budaya Indonesia, maka pertemuan IMBASADI tahun 2010 ini mengangkat tema Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan yang tervisualisasikan dalam kegiatan “Temu Jujaro Mungare Nusantara”. Kata jujaro dan mungare berasal dari Bahasa Melayu Ambon yang artinya pemudi dan pemuda. Jadi kegiatan ini merupakan ajang berkumpulnya pemuda dan pemudi nusantara yang berlatar belakang pendidikan bahasa dan sastra daerah untuk membicarakan keberadaan dan perkembangan bahasa dan sastra daerah.

Adapun tujuan kegiatan “Temu Jujaro Mungare” tersebut adalah: 1) Membentuk kearifan lokal nusantara yang terkandung dalam budaya daerah sebagai salah satu langkah untuk mencari solusi permasalahan degradasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegera; 2) Pengenalan kebudayaan nusantara, terutama nilai-nilai tradisi lokal yang perlu dikembangkan kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda; dan 3) Mempererat tali persaudaraan antara Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia dalam rangka pengembangan, pelestarian, dan penyelamatan kekakayaan intelektual Nusantara.

KETENTUAN-KETENTUAN DELEGASI

1. BIAYA, WAKTU, DAN TEMPAT PENDAFTARAN

Biaya Pendaftaran :

a. Peserta aktif : Rp. 500.000,00

b. Peserta pasif : Rp. 600.000,00

Pembayaran dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan kegiatan.

Waktu Pendaftaran: 1 Agustus – 25 Oktober 2010 (konfirmasi jumlah anggota delegasi)

Cara pembayaran:

a. Langsung :

Sekretariat Panitia Temu Jujaro Mungare Nusantara, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon

b. Transfer :

BRI Cabang Ambon, nomor rekening 0001-01-021879-50-5, a.n. June Werinsa Salakory

Bank Mandiri Cabang Ambon, nomor rekening 152-00-0779620-0, a.n. Krissanty Hiariey

2. KEWAJIBAN DELEGASI

a. Menyusun data base tentang naskah atau folklor maupun keduanya dari daerah masing-masing untuk diterbitkan. Data base dikirim bersama makalah temu ilmiah.

b. Membawa jas almameter untuk dipakai selama kegitan berlangsung.

c. Membawa panji universitas masing-masing yang akan dipasang selama acara berlangsung.

d. Mempersiapkan satu set busana tradisional yang akan digunakan oleh dua anggota delegasi sebagai ikon dalam acara Ramah Tamah.

e. Menyusun rumusan solusi permasalahan bangsa terkait dengan tema Musyawarah Nasional ke-17.

f. Setiap delegasi diwajibkan membawa Sumbangan Wajib Organisasi (SWO) untuk Sekretariat Imbasadi sebesar Rp. 50.000,-

3. TEMU ILMIAH

Temu ilmiah kali ini mengusung tema “Pengembangan, Pelestarian, dan Aktualisasi Nilai-nilai Tradisi Lokal sebagai Kekayaan Nusantara”

Ketentuan penulisan:

- Naskah atau makalah yang ditulis harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan di atas.

- Naskah atau makalah adalah karya murni dari peserta sendiri dan belum pernah dipublikasikan.

- Naskah atau makalah ditulis dalam Bahasa Indonesia, diketik dengan aturan 1,5 spasi, font 12 Times New Roman, minimal 10 lembar.

- Naskah atau makalah dikirim dalam bentuk soft copy melalui email: temujujaromongarenusantara@yahoo.com

- Batas pengiriman naskah atau makalah paling lambat tanggal 15 Oktober 2010

- Naskah atau makalah akan diseleksi oleh panitia.

4. SEMINAR NASIONAL

- Seminar nasional menghadirkan 3 pembicara yang akan membawakan makalah dengan tema ”Aktualisasi Nilai-Nilai Tradisi Lokal yang Berkarakter Kepulauan”.

- Peserta seminar terdiri dari peserta IMBASADI, dosen, guru, mahasiswa, dan pemerhati masalah bahasa dan sastra daerah.

- Peserta lain yang bukan peserta IMBASADI wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.250.000.-. Sedangkan mahasiswa dikenakan biaya sebesar Rp.75.000.-

- Peserta seminar nasional yang bukan peserta IMBASADI wajib mendaftar satu minggu sebelum seminar dilaksanakan.

- Peserta seminar nasional mendapatkan sertifikat, seminar kit, dan makan siang.

5. MUSYAWARAH NASIONAL

Musyawarah Nasional ke-17 ini mengangkat tema “Melanjutkan Estafet Perjuangan Melalui Tradisi Lokal”.

Musyawarah Nasional ini akan membahas tentang:

- Sosialisasi AD/ART dan GBHO Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

- Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IMBASADI Periode 2009/2010

- Pemilihan Pengurus IMBASADI Periode 2010/ 2011

- Penentuan program kerja IMBASADI Periode 2010/ 2011

- Rekomendasi permasalahan bangsa dengan menerapkan kearifan-kearifan lokal yang terkandung dalam naskah lama dan folklor nusantara.

4. MALAM KEBUDAYAAN NUSANTARA DAN PAMERAN KEBUDAYAAN

a. Malam Kebudayaan Nusantara

- Masing-masing delegasi wajib menampilkan satu pertunjukkan budaya dari daerah masing-masing.

Bentuk pertunjukkan harap dikonfirmasikan paling lambat satu minggu sebelum hari pelaksanaan kegiatan.

- Batas waktu penampilan 15 menit.

- Properti harap dipersiapkan sendiri terkait dengan ruang penyimpanan properti delegasi.

b. Pameran Kebudayaan

- Tiap delegasi diharapkan memamerkan barang-barang khas daerah masing-masing dan diperbolehkan melakukan transaksi jual beli.

- Tiap delegasi wajib mengirimkan data barang yang akan dipamerkan terkait dengan buku panduan pameran dan pengaturan stan.

Apabila membutuhkan perlengkapan tambahan, harap segera diinformasikan pada panitia.